
PERKENALANNYA dengan seorang pelacur di sebuah diskotik, betul-betul menjadi pukulan berat baginya. Sebab dari perkenalan itu, malah membuatnya menjadi seorang pecandu narkoba yang membuat trauma berkepanjangan
Rony (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pria yang mempunyai wajah yang tampan, atletis serta berkulit putih. Menurut pengakuannya, banyak wanita yang mencoba mendekat, namun ia belum bisa menerima para wanita itu sebagai teman istimewa, dengan alasan, ia tidak mau memanfaatkan mereka hanya untuk sekedar iseng belaka.
Tetapi sebagai lelaki normal, ia mempunyai kebutuhan seks yang tidak bisa dia pungkiri, apalagi ia termasuk memiliki kebiasaan jelek yaitu sering melihat gambar-gambar porno dan membaca cerita-cerita seks di internet. Selain itu, ia tidak mau, ketika pada saat menikah nanti sama sekali buta tentang seks. Namun dari kebiasan buruknya itu, justru awal kisahnya memulai mengonsumsi narkoba.
Kisah itu bermula ketika ia memutuskan untuk pergi ke tempat "senang-senang". Kakinya melangkah masuk ke salah satu diskotik yang lumayan terkenal di Jakarta. Begitu masuk, Rony langsung naik ke lantai dua diskotik tersebut. Di sana, ia melihat ada beberapa pria dewasa sedang duduk dan bercerita di sofa sambil merokok dan minum-minum. Didalam pikirannya, para pria tersebut sedang menunggu wanita langganannya.
Selang 10 menit memperhatikan suasana di dalam diskotik, seorang bartender menyapanya dengan ramah, "Haloo Boss, mau yang mana nihh, "kata Rony menirukan ucapan bartender itu.
Tanpa ragu Rony mengatakan, ia ingin melihat foto-foto seksi yang ada di meja, Akhirnya dengan bantuan bartender itu, ia diperlihatkan beberapa foto-foto wanita. Karena foto-fotonya begitu banyak, akhirnya, Rony disarankan oleh bartender itu untuk memilih wanita yang berambut pirang.
Singkat cerita, entah apa yang terjadi di kamar saat ia berduaan dengan wanita itu (sebut saja namanya Viny). Wajahnya yang cantik ternyata tidak bisa membuat hasratnya meninggi, justru Rony merasakan hampa dan tidak ada gairah.
Akhirnya, Rony memutuskan untuk hanya bercakap-cakap dengan Viny. Dalam percakapannya, Viny banyak bercerita tentang satu anaknya di kampung dan suaminya yang awalnya merantau ke Malaysia, namun hingga saat ini sudah tidak ada kabar beritanya lagi. Selain itu ada keinginannya untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Makanya untuk bertahan hidup ia terpaksa memilih menjadi "hostes"
Namun dibalik keinginan kuat untuk menopang semua kebutuhan keluarga dengan menjual tubuhnya, ternyata iapun pengkonsumsi narkoba dan turut memperjual-belikan pada teman kencannya. Ketika Rony bertanya, kenapa ia melakukannya, Viny hanya menjawab selain keuntungannya yang lumayan, ternyata narkoba dapat membantunya bergairah ketika melayani para hidung belang yang menjadi pelanggannya.
Antara percaya dan tidak percaya, dalam relung hati Rony terselip rasa penasaran. Kemudian Rony mencoba saran yang diberikan Viny. Mulanya ragu, tapi barang haram yang ditawarkan padanya ia coba juga. Setelah mencoba shabu, iapun tidak habis mengerti, perasaan hasratnya benar-benar meninggi.
Diakui Rony, ketika awalnya mencoba shabu untuk memompa hasratnya, ia tak menaruh kecurigaan. Sedikit demi sedikit barang haram itu akan membuatnya menjadi pecandu. Apalagi dalam hatinya ia merasa yakin ia dapat mengontrol agar tidak ketagihan. Namun setelah beberapa kali memakainya, diam-diam Rony mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuh dan jiwanya, karena ternyata ia telah ketagihan, jadi ingin pakai lagi dan lagi.
Dengan kondisi seperti itu, Rony masih tetap percaya saja pada Viny. Bahkan kata hati dan saran teman-temannya untuk menjauhi Viny, ia urungkan. Alhasil, sejak itu, hampir seluruh waktunya ia habiskan di diskotik dan di rumah Viny. Bukan itu saja, bahkan Viny sebenarnya sudah memintanya agar ia tinggal bersamanya, daripada buang-buang uang untuk biaya kontrakan.
Sadar Sebelum Terlambat
Belakangan, setelah menjadi pesakitan selama kurang lebih lima tahun, ia mulai lelah dengan gaya hidup seperti ini. Iapun tidak habis pikir mengapa, sampai bisa berkenalan dengan seorang pelacur yang akhirnya malah menjerumuskan ia dalam pelukan setan narkoba. Padahal, tadinya ia merasa cukup yakin dan kuat untuk tidak terpengaruh apalagi sampai ketagihan.
Dalam hatinya ia berkata sendu “Apa yang telah kulakukan, dosa apa yang harus kutanggung hingga Tuhan memberiku ujian yang begitu berat ini. Dulu, mendengar namanya narkoba saja, aku begitu alergi. Tapi sekarang malah aku yang tak kuasa melepaskannya, dan hidup seperti ini seperti dineraka saja, “ucapnya.
Pada suatu hari Rony meminta ijin pada Viny. Alasannya ingin berkunjung kerumah saudara ibunya didaerah Jawa Timur. Tepat jam duabelas malam, Rony menemui Viny didiskotik tempat ia bekerja. Saat itu Rony berpikir, jika ia masih berhubungan dengan Viny, ia tidak akan bisa lepas dari narkoba, saat inilah waktu yang tepat untuk meninggalkannya.
Kemudian Rony masuk ke diskotik melalui pintu belakang, dan langsung menuju ke kamar tidur Viny tempat dimana ia biasa melayani lelaki hidung belang. Sesampai dikamarnya, Rony melihat Viny sedang tertidur dengan pulasnya bersama seorang lelaki.
Dengan berjalan mengendap-endap, Rony menghampiri Viny, membangunkannya perlahan dan memintanya menuju ke kamar tamu, untuk meminta ijin, kalau besok pagi ia akan keluar daerah menemui saudaranya. “Dan .. itulah malam terakhir, saya melihat wajah Viny, “katanya datar.
Lima tahun sudah kisah gelap bergaul bersama seorang pelacur hingga akhirnya Rony terjerumus narkoba dan kini telah sembuh dari jeratan barang haram itu telah berlalu, namun kisah ini tetap membekas bersama perjalanan hidupnya yang tidak bisa dilupakan begitu saja
Walau Rony kerap berkhayal, entah kapan ia akan bertemu lagi dengan Viny. Karena setelah perbincangannya dengan Viny di diskotik lima tahun silam tersebut, ia bertekad tidak akan lagi masuk ke tempat serupa.
Saat ini ia tetap berharap bisa bertemu lagi dengan Viny, tentu saja dalam kondisi yang lebih baik bukan sebagai seorang "pelayan seks" dan Pelanggannya. Tetapi sebagai seorang sahabat. (W)
Kisahku Bersama Seorang Pelacur
Duka Cinta Terdalam membuat Diriku Terjerat Narkoba

KARENA ingin menghapus kenangan terindah bersama isteri tercintanya yang telah meninggal dunia, R. Karya Sampurna, malah kecanduan narkoba. Selama dua tahun, ia menjadikan dirinya budak sabhu dan ekstasi sebagai pelarian masalahnya. Beruntung ia segera menyadarinya, sebab kalau terus berlanjut, ini bisa berubah menjadi mimpi buruk buat diri dan keluarganya.
Tahun 2003 sampai 2005 lalu adalah masa-masa keterpurukan hidup R. Karya Sampurna yang lebih akrab disapa Nana. Ia mengenang kembali mimpi buruk yang dialami pada enam tahun yang lalu, dimana karena meninggalnya isteri tercinta ternyata membuatnya menjadi depresi. Meski berbagai upaya untuk melupakan peristiwa itu telah dilakukan, namun tidak juga berhasil. Hingga akhirnya ia menggunakan narkoba sebagai jawabannya walaupun Ia sadar bahwa hal itu telah melucuti dirinya,
Nana adalah tenaga staf administrasi disalah satu perusahaan swasta di Serang Banten. Sejak meninggalnya isteri tercinta, 19 Desember 2002 lalu akibat hipertensi ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengurung di kamar dan menutup diri dari pergaulan luar. Bahkan, teman-teman di kantornya pun banyak yang menyarankan agar ia jangan larut berkepanjangan karena peristiwa itu, dan harus bisa melupakannya. Bagi Nana, walau apa yang disarankan kawan-kawannya memang benar, tapi pada prakteknya tetap saja sulit. “Jujur aja, meski ketika itu kepergian isteriku menghadap Sang Khalik sudah berjalan satu tahun, namun bayangan dirinya masih terasa dalam jiwaku. Semakin aku coba untuk melupakan, justru semakin dekat saja bayangan itu, lantaran itu aku jadi stress,“ ujar Nana.
Terjerumus Narkoba
Melihat keadaan diriku yang seperti hidup segan mati tak mau, akhirnya teman-teman se-kantor pada suatu malam minggu mengajakku untuk melihat hiburan dangdut di Citeras, Serang. ”Pikirku daripada melamun, kenapa aku tidak mulai menghibur diriku dari kedukaan,“ kata Nana menceritakan kembali pengalamannya.
“Lalu setelah berfikir, ku iyakan saja tawaran itu. Ketika itu kami pergi naik mobil kijang, namun setelah melintas di daerah Citeras, kami tidak berhenti, malah bablas ke Jakarta dan akhirnya berhenti disalah satu tempat hiburan malam di Jakarta,” cerita Nana.
Singkat cerita, “Aku diajak berjoget sambil disuguhi segala pernak-pernik kenikmatan yang bisa didapatkan didalam diskotik, mulai dari minuman keras, ekstasi bahkan wanita. Seakan segala suguhan yang kunikmati di tempat hiburan malam itu, beradu cepat dan beradu keras antara musik house mix dan adreanalinku. Dari pengalaman pertama ke diskotik yang aku bisa ceritakan adalah ternyata ekstasi bisa membuatku melupakan segala masalah yang sedang kualami, meski belakangan aku tahu bahwa hal itu hanya bersifat sementara,” katanya.
Meski target sementara untuk melupakan masalah yang selama ini terus menghantui Nana sudah terlihat hasilnya, namun ia belum mau buru-buru meninggalkan dunia gemerlap tersebut. “Seiring perjalanan waktu, aku jadi terbiasa dengan kehidupan malam. Berjoget semalam suntuk, menenggak minuman keras dan mengumbar hasrat dalam pergaulan. Tidak itu saja, narkoba dan sex bebas pasti aku lakoni sebagai syarat ritual perjalanan akhirku melepas segala masalah ini,” papar Nana.
Karena kebiasan buruk itu, ia jadi sering kehabisan uang. “Gajiku yang biasanya bisa bertahan selama selama satu bulan, ludes sebelum waktunya. Agar tetap bertahan, segala peralatan elektronik yang ada di rumah seperti TV, Tape, VCD serta HP menjadi korban untuk menutupi kebutuhan dan kebiasaan burukku ini. Tak jarang akupun kerap meminta uang pada ibuku,” ungkapnya sedih.
Lanjutnya, “Kebahagian yang kudapatkan dengan mengkonsumsi narkoba, ternyata nikmatnya tidak sebanding dengan resiko yang aku hadapi. Aku jadi sering berbohong pada orang tua, sering bolos kerja karena lelah setelah semalaman ke diskotik, belum lagi jika suatu saat nanti aku harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Hidup seperti ini membuatku lelah, aku ingin kehidupan yang lebih baik Pernah aku coba untuk berhenti dari prilaku menyimpang ini, namun hanya bertahan enam bulan, setelah itu akupun kembali lagi kepelukan barang setan tersebut.”
“Sampai suatu saat, aku mengalami peristiwa di Jalan tol Merak – Jakarta, ketika pulang dari diskotik, mobil yang aku tumpangi mengalami kebakaran dibagian kapnya (bagian penutup mesin, red.), akibat air radiatornya kering. Seketika itu aku langsung punya firasat, mungkin Tuhan mulai memperingatiku agar segera menghentikan kebiasan buruk ini, sebelum semuanya berakhir sia-sia. Dari peristiwa itu, aku bertekad untuk melepaskan diri dari belenggu narkoba yang telah menjeratku selama dua tahun,” .
Menutut Nana, “Untuk melepaskan narkoba, memang aku tidak masuk rehabilitasi. Namun, aku terus mendekatkan diri pada Allah, bertaubat dan mohon ampunannya. Dan peristiwa tol Merak – Jakarta itulah yang akhirnya mampu menghentikan pengembaraanku pada dunia gemerlap hiburan malam.”
“Yah..dua tahun aku telah menjadi pesakitan, dan buatku itu sangat menyiksa. Sekarang waktunya bagiku untuk memikirkan masa depan dan keluargaku. Apalagi, kini aku telah menikah lagi dengan seorang wanita yang kukenal ketika kami sama-sama naik bis jurusan Rangkas – Merak. Meski ia telah mempunyai anak dari perceraian dengan suami pertamanya, buatku tidak masalah, bahkan aku bersyukur, karena telah dipertemukan jodoh oleh Tuhan. Kini tekadku telah memiliki tepi, dan akan ku jadikan sebagai titik balik kehidupanku kearah yang lebih baik bersama keluargaku. Amin.” Demikian pengakuan R. Karya Sampurna alias Nana yang berdomisili di Serang – Banten kepada Tabloid SADAR (W)
Akibat Narkoba Kuliah Berantakan
NARKOBA yang kunikmati selama hampir empat tahun, telah membuat semua cita-citaku terkubur bersama waktu dan kenistaannya. Tidak hanya itu saja, harta benda orang tuaku pun turut terkena imbasnya bersama kebebasaan kehidupan malamku ke diskotik yang sudah menjadi rutinitas.
Beruntung aku disadarkan oleh sahabatku. Kini aku tengah menjalani proses pemulihan di sebuah panti rehabilitasi. Sebab kalau hal itu tidak dilakukan, mungkin namaku hanya tinggal kenangan saja seperti nasib adikku yang lebih dulu meninggal karena putaw
Jujur saja, semua ini masih bisa disyukuri, meskipun sekarang aku sendiri harus jungkir balik melakoni proses pemulihan melawan narkoba. Namaku sebut saja Nina (bukan nama sebenarnya). Aku anak pertama dari dua bersaudara. Aku sendiri dilahirkan ditengah keluarga yang berkecukupan. Ayahku seorang pebisnis dibidang otomotif, sedang ibuku pegawai diinstansi pemerintahan di kota Bekasi yang posisinya sudah cukup lumayan.
Karena kehidupan kedua orangtuaku dipenuhi kesibukan, bahkan aku berani mengatakan, mereka seperti asyik dengan dunianya dan jarang sekali memberikan waktunya bersama keluarga. Kondisi tersebut membuat aku dan adikku merasa diterlantarkan dalam kasih sayang.
‘’Walau secara materi kami memang dimanjakan dengan berbagai fasilitas, baik kendaraan, uang saku hingga semua keperluanku terpenuhi. Tapi satu hal yang jarang diberikan ayah dan ibuku adalah perhatian ketika mereka tengah berada di rumah,’’ujar Nina
Namun lanjut Nina tidak hanya itu saja, bahkan walau hanya sekedar menanyakan keadaan kedua anaknya di kampus ataupun sekedar basi basi, jarang sekali mereka lakukan. Sepertinya, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sehingga melupakan anak-anaknya yang begitu merindukan belaian kasih sayang orang tua.
Sampai akhirnya, kata Nina dengan nada lirih, adiknya meninggal dunia. Sungguh ironis Nina sendiri dan kedua orangtuanya merasa tidak percaya, adiknya meninggal karena overdosis memakai narkoba jenis putauw.
‘’Informasi ini aku dapat dari pacar adikku yang pada saat-saat terakhir kematiannya, ia orang yang ada disampingnya. Menurut pacar adikku, adikku seperti orang bingung ketika tahu kalau pacarnya tengah mengandung akibat perbuatannya,’’tutur Nina
Sejak kepergian adiknya , Nina mengaku semakin menjadi kesepian. Meski sejatinya Nina sendiri memang jarang berkomunikasi dengannya, tapi sesekali ialah orang yang menjadi tempat diskusi ketika dirinya ada masalah dengan pacar. Karena itu ketika adiknya meninggal Nina semakin tak betah di rumah. Sebagai penghiburnya ia bersama teman-temannya mulai pergi kedunia gemerlap (dugem). Baginya dunia seperti itu bukan lagi cerita langka. Dengan makin seringnya ia ke tempat dunia hiburan malam, untuk mengubah suasana batin, sepertinya semua cobaan yang menerpa keluarga seolah lengkap sudah.
Di diskotiklah ia pertama mengenal narkoba, yang perlahan tapi pasti merusak semua kehidupannya. Ia mengenal barang setan itu dari kekasih temannya yang memang masih satu kampus dengan Nina.
‘’Aku dibuatnya terlena. Bahkan, kesucianku rela kuserahkan, karena bujuk rayunya yang akan terus memberi narkoba gratis padaku. Selama hampir dua tahun tubuhku kutukar dengan narkoba, semua ini kulakukan karena aku memang sudah ketergantungan,’’ujar Nina yang meratapi nasib diri.
Kehidupan bebas yang digeluti bersama pacar temannya tersebut telah membutakan mata hati Nina. Semua ini hanya untuk mendapatkan kenikmatan semu sesaat. Mereka tak ubahnya seperti pasangan suami isteri yang tak lagi mengenal waktu dan tempat untuk bisa melampiaskan hasrat. Adapun yang ada dalam pikirannya ketika itu hanyalah putaw.
Singkat cerita, tanpa sepengetahuan Nina, pacar temannya itu pergi begitu saja meninggalkan dan membiarkannya dirinya yang sedang melawan rasa sakaw karena narkoba. Nina pun mencoba mencari informasi ke teman-temannya, tapi tidak ada yang tahu. Bahkan ia pun nekad menyambangi rumahnya dan bertanya hal yang sama, tapi orang rumahnya tidak ada yang mau memberitahu keberadaannya.
Dengan terpaksa akhirnya dipikul semua penderitaan tersebut karena perbuatannya sendiri. Karena sudah ketergantungan narkoba, terpaksa ia mulai berprilaku seperti maling. Mulai dari uang kuliah dipakai, berbohong minta uang untuk keperluan ini itu, sampai semua harta orang tua dijual demi mendapatkan barang haram itu. Karena sehari saja tidak pakai narkoba sepertinya dunia ini akan kiamat.
Dalam masa - masa kritis yang hampir tak mampu lagi menyelamatkan diri dari gerogotan obat terlarang itu, Nina nekad menemui mantan pacarnya ketika di duduk di bangku SMU, Rusdy namanya. Kepada Rusdy, ia ceritakan semua kejadian yang tengah menimpanya dan kehidupan keluarga yang sudah tidak pantas lagi disebut keluarga. Rusdy begitu iba mendengarnya,
‘’Belakangan baru aku tahu, rupanya diam-diam Rusdy memperhatikan semua kelakuanku selama ini dari informasi temannya,’’imbuhnya
Perhatiannya yang sungguh-sungguh tersebut membuat Nina meneteskan air mata. Pikirnya, ternyata masih ada orang yang menginginkan dirinya dalam kebaikan. Perlahan Rusdy mulai memperkenalkan Nina dengan semua yang berhubungan dengan agama. Setiap saat kalau ada waktu, Rusdy tidak bosan menemui Nina di rumah untuk memberi petunjuk agar bisa kembali ke jalan Allah.
‘’Mulailah kemudian aku sadar akan kekeliruanku selama ini. Meski masih sering sakaw seolah tak mampu lepas dari narkoba, namun kehadiran seorang mantan kekasih ternyata begitu kuat. Ia pun menyarankan aku masuk panti rehabilitasi sebagai langkah awal untuk memulai hidup baru,’’katanya
Berkat saran Rusdy, akhirnya tanpa pikir duakali Nina pun masuk panti rehabilitasi menjalani proses pengobatan kecanduan narkoba. Dalam benaknya, ia berharap, mudah-mudahan langkah ini, awal pembuka dari kehidupan yang baru. Pertama kali masuk tempat rehabitalasi bertepatan bulan puasa tahun lalu. Makanya ketika mendengar suara takbir dan takhmid berkumandang, hampir setiap malam Nina sering menangis karena menyesal. Kini dirinya menghabiskan waktu di panti rehabilitasi mencoba memupuk semangat hidup yang mulai tumbuh kembali dan semoga akan terus seperti ini.
‘’Terima kasih sahabat yang juga mantan kekasihku,’’ujar Nina dengan nada haru. (W)
Ibarat Pemancing yang dimainkan Ikan

SEWAKTU di pesantren, saya pernah mendengar peringatan seorang kyai, agar jangan lagi menyentuh narkoba karena dapat menyengsarakan diri. Narkoba adalah sesuatu yang tidak berguna dan dapat berakibat kematian. Jadi percuma saja membuang umur hanya untuk menikmati barang haram tersebut.
BEREBUT KASIH SAYANG DENGAN BANDAR

Ronny Pattinasarani
BEREBUT KASIH SAYANG DENGAN BANDAR
Di jagad persepak bolaan tanah air dialah sang macan lapangan. Seorang yang siap menjemput bola di manapun disepak. Pada masa-masa jayanya, ia tampil sebagai pemain dan pelatih sepak bola yang paling dicari oleh klub papan atas. Hingga datang suatu masa yang paling suram… ditengah gelap malam yang senyap, dengan langkah gontai menyusuri hitam jalanan mencari-cari dimanakah gerangan sang anak yang ia kasihi.
Saya sudah tidak perduli lagi orang mau sebut apa Ronny Pattinasarani. Kawan-kawan saya bilang , ‘eh sudah gila barangkali si Ronny, kok jalan malam-malam sendirian…’ “Saya akan lakukan apa saja, dan saya akan lepaskan apa saja yang ada pada diri saya demi anak saya yang sedang menderita”, demikian penuturan Ronny Pattinasarani dalam suatu perjuampaan dengan SADAR di kawasan Kemang.
Berkali-kali Ronny menekankan bahwa dirinya lah yang salah sehingga kedua anaknya menderita oleh kecanduan narkoba. “Saya sebenarnya sedang dihukum melalui apa yang menimpa anak-anak saya”, ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Ya, Ronny harus menerima kenyataan bahwa dua anak laki-lakinya terjerat zat yang mematikan itu.

Ketika ia memandangi anaknya yang tertidur di kamar setelah didera siksaan menahan candu, hatinya berbisik, “Apa kesalahan anak ini sehingga ia harus menderita seperti ini?”
Demi mengasihi kedua anaknya, Ronny melepaskan pekerjaannya sebagai pelatih sepak bola yang merupakan sumber pemasukan terbesar buat keluarga. Ia mencurahkan seluruh waktunya untuk mengurusi mereka. Kapan saja ia dibutuhkan, ia akan selalu ada disamping mereka. Kasih sayang yang bercampur rasa iba dan perasaan ikut menderita yang ditunjukkan Ronny, menghasilkan bentuk perhatian yang sulit dimengerti siapapun juga. Dengan sukarela, Ronny acap menyediakan putaw ketika kedua anaknya sedang membutuhkan. Ia mendampingi hingga ke tempat Bandar untuk membelikannya langsung buat mereka.
Hidup Mati, Beda Tipis
Cahaya lampu hiasan di Dimsum Festival tempat kami bertemu malam itu, meremang, seolah ingin memprotes tindakan Ronny terhadap anak-anaknya. Kenapa bisa begitu? “Alasannya hanya satu”, jelas Ronny, “Saya tidak tega melihat anak saya menderita. Setelah saya lihat sendiri didepan mata saya, putaw yang mereka pakai bisa melepaskan mereka dari penderitaan, saya merasa wajib menyediakannya untuk mereka. Pada saat itu, saya juga menangis karena saya tahu saya ikut membunuh anak saya secara perlahan. Saya tidak punya pilihan lain selain saya harus menolong anak saya segera lepas dari penderitaannya walaupun hanya sesaat. Saya lakukan itu juga karena saya tahu pasti, anak saya sudah bertekad mau sembuh. Tapi mereka kan tidak punya jalan keluar… Supaya mereka tidak lekas menyerah, saya ingin mereka teryakini bahwa saya sangat peduli dengan keadaan mereka”.
Lagi-lagi akal manusia sulit menyelami pengalaman pribadi seseorang yang berpasrah dalam iman, seperti yang dialami Ronny. Berikut kesaksiannya: “Bukan karena saya frustasi atau putus asa, tapi karena saya sudah siap kalau pada akirnya saya akan kehilangan kedua anak saya. Buat pemakai narkoba, kemungkinan hidup atau mati itu beda tipis. Cepat atau lambat anak saya akan meninggal, entah itu karena over dosis atau jadi perampok diluar lalu terbunuh oleh polisi, tapi kalau tokh itu terjadi, mereka sedang berada dalam kasih sayang saya. Itu kekuatan saya juga untuk sealu bertahan agar anak saya bisa sembuh. Karena saya yakin tidak ada kata menyerah sama Tuhan, walaupun kita sendiri babak belur”.
Ronny sampai pada satu titik balik dalam pengabdiannya kepada keluarga, khususnya kedua anak laki-lakinya yang sedang berjuang untuk sembuh. Ia memutuskan untuk mengurus sendiri anak-anaknya. “Sebab setelah dua kali terapi dengan dokter, kedadaan mereka tidak kunjung membaik. Lalu saya ulangi lagi dengan dokter yang lain, tetap tidak baik juga. Hati saya tidak rela seandainya mereka meninggal saat sedang ditangani dokter atau yang lainnya. Jadi saya mengubah sendiri cara penyembuhannya, yaitu dengan mendekatkan diri saya secara pribadi kepada Tuhan dan kepada mereka”, tutur Ronny yang mengungkapkan bahwa rahasia sukses kesembuhan kedua anaknya merupakan proses yang berlangsung melalui tiga simpul hubungan antara dirinya dengan Tuhan, keluarga, dan anak-anaknya. Menurut Ronny, yang membuat rumah tangga menjadi terang bagi anak adalah kasih sayang.
Karena itu ia dan istrinya selalu memperlihatkan kesatuan pendapat. “Mengurus anak normal saja pusing, apa jadinya kalau kita sering ribut-ribut didepan mereka?” sambungnya.
Sofyan Ali, Ketua Gerakan Anti Madat [GERAM], yang menjadi fasilitator kami bertemu dengan Ronny Pattinasarani malam itu menambahkan, “Kalau ada anak terkena narkoba, satu keluarga bisa mati. Masalah narkoba ditengah keluarga menyebabkan tingkat keributan keluarga., utamanya selisih pendapat antar suami-isteri, begitu tinggi sehingga hal itu sering berujung pada perceraian”.
Keduanya Terjerumus Narkoba
Kasih sayang yang ia berikan bukan sekedar ungkapan, namun ia praktekan dalam sikap dan perbuatan. Buahnya ialah anak-anak Ronny, yang termasuk anak penurut terhadap orangtuanya. Ronny bercerita suatu kali anaknya terlihat mengambil barang dari rumah dan pergi mencari putaw, lalu ia kejar dan menyuruhnya pulang, saat itu juga dia akan pulang dan mengembalikan barang. Teringat hal itu Ronny terharu sekai sebab ia tahu anaknya saat itu sedang butuh-butuhnya. Tpi karena anaknya merasakan kasih sayang yang nyata dari dirinya, anaknya tidak pernah sedikitpun melawan dan tidak pernah mau ribut dengannya. Itu pengakuan anaknya setelah sembuh, ketika ditanyakan kembali oleh Ronny setelah tiga tahun lamanya menangani mereka.
Anak kedua Ronny, lebih dahulu terjerumus narkoba. Baru kemudian menyusul kakaknya. Pertamakali anaknya mengaku memakai narkoba, reaksi Ronny biasa saja. Karena informasi tentang putaw waktu itu belum bayak , ia pikir putaw hanya semacam minuman ringan beralkohol atau sejenis obat nipam yang tidak terlalu ganas. “Saya curiga, sakit panas dinginnya anak saya, kok lain meskipun sudah dibawa ke dokter, lalu saya cari tahu apa sih putaw, apa sih shabu. Begitu tahu dari teman yang sering pakai, saya kaget setengah mati…”
Tidak Boleh Saling Menyalahkan
Apa tindakan selanjutnya? “Langkah pertama, saya beritahu Stella, isteri saya. Saya bilang, ‘Anak kita Jerry pakai narkoba. Ini bukan aib, hanya suatu musibah. Karena itu kita harus tolong kita punya anak’. Lantas komitmen awal kami adalah agar diantara kami berdua tidak boleh saling menyalahkan. Setelah itu kami bawa dia menjalani perawatan medis. Tapi tidak sembuh. Si kakak yang tadinya disuruh jaga, malahan ikut-ikutan pakai. Mulailah dari situ barang-barang dirumah sering berhilangan”. Kenang Ronny.Bagaimana agar emosi tetap terjaga? “Dengan doa. Jarang saya sampai marah-marah. Pernah jam 1 malam orang menggedor pintu rumah. Katanya anak saya punya utang. Mau bilang apa kecuali saya minta maaf… Begitu anak pulang, saya tidak apa-apakan dia sebab dia sendiri dalam posisi otak yang tidak normal. Saya hanya buang waktu dan tenaga bicara dengan orang seperti itu. Yang bisa saya perlihatkan hanya sikap. Saya rangkul dia. Lalu dikamarnya saya sempatkan tidur disampingnya biar cuma lima menit. Jadi hanya itu. Kalau kita ngomel bisa-bisa dia malah kabur lagi”. Bentuk kasih sayang lainnya? “Waktu, kedekatan, dan yang paling penting sikap, itu yang dibutuhkan anak”, kata Ronny mantap, “Misalnya sewaktu dia pulang, saya peluk lantas saya tanya dia darimana saja… Dia pikir dia akan dimarahi ternyata tidak”.
Ketika berurusan dengan Bandar? “Saya tidak dendam, karena megurus anak saya sudah susah. Buat apa tambah masalah? Cuma kepada bandarnya saya bilang, dia tahu saya siapa, dan saya tahu dia siapa, jadi saya minta dia jangan berbuat macam-macam dengan anak saya. Saya tidak mau keras-kerasan , karena itupun tidak akan menolong anak saya, tapi bisa malahan lebih parah”.
Menurut catatan Sofyan Ali, bandar bisa menghabisi pelanggan yang ia rasa sudah mengancam keberadaannya, dengan melebihkan dosis pemakaian narkoba secara sengaja atau mencampurnya dengan bahan yang mematikan. Berkaitan dengan itu, Ronny pernah menyaksikan dua teman anaknya meninggal akibat over dosis, namun dalam pikirannya mereka sebenarnya dibunuh. Itulah yang ia jaga dari anaknya. “Makannya saya berebutan kasih sayang sama bandar”, tandasnya. Ronny mengakui kalau dirinya dulu kurang memberikan kasih sayang dikarenakan jadwalnya yang padat sebagai pelatih diberbagai tim kesebelasan daerah sehingga ia jarang bertemu anak. “Makannya saya anggap ini semua hukuman. Tapi Tuhan tidak menghukum langsung, melainkan melalui anak saya. Hukumannya sangat berat... sangat berat… sangat berat”, tambahnya penuh sesal.
Minum Racun Serangga
Seperti apa perasaan ikut menderita? “Pada waktu anak saya sakaw, saya peluk dia terus… Dia meraung minta tolong agar badannya dipukuli . Tapi saya tidak lepas. Saya peluk terus. Sampai menjelang pagi, begitu saya ada uang, saya belikan putaw buat dia… Kalau sudah begitu, saya tidak bisa apa-apa lagi. Apalagi kalau kedua anak saya sakaw berbarengan. Belum lagi ketika salah stau dari mereka, saya dapatkan hendak bunuh diri dengan meminum racun serangga. Dia merasa sudah tidak punya kekuatan lagi untuk sembuh. Dan dia tidak mau mengecewakan saya orangtuanya. Jadi dia cari jalan pintas daripada menyusahkan orangtua terus, dia lebih pilih mati. Itu pikirannya waktu itu. Saya bersyukur dia masih tetap hidup. Ini yang saya jadikan bahan untuk menghiburnya, bahwa masih ada Tuhan, sahabat yang pasti sanggup menolong. Sejak itu dia punya kekuatan untuk terus bergumul”, papar Ronny sambil memperbaiki posisi duduknya.
Kemana mencari informasi tentang metode-metode penyembuhan dari narkoba? “Nggak tahu, saya seperti kehilangan akal. Tapi dari awal, saya percaya ini hukuman Tuhan. Dan saya yakin hukuman ada batasnya. Yang menghibur saya ialah kalau anak saya belum sembuh, berarti saya belum beres sama Tuhan… jadi saya harus beres dulu. Karena itu saya minta tolong sama Tuhan. Dan sewajarnya kita mendekatkan diri kepada siapa kita mengharapkan pertolongan. Itu yang jadi pegangan saya”. Proses kesembuhan anak-anak Ronny tidak terlepas dari pelayanan gereja. Terapinya, kalau orang sakaw biasanya mencari putaw, disana mereka mencari Firman Tuhan dengan membaca ayat-ayat dari Alkitab dan saling mendoakan. “Dalam Tuhan tidak ada yang mustahil , itu yang selalu saya ingatkan pada mereka”, tambah Ronny yang mendapatkan kekuatan diri dengan selalu berdoa.
Apa pengalaman berharga dari semua cobaan itu? “Keterlibatan mereka dengan narkoba dan kesembuhan mereka yang ajaib, sangat berhubungan dengan pertobatan keluarga. Keinginan mereka yang kuat untuk sembuh, membawa pemulihan dalam keluarga, sehingga kami sekeluarga bisa selalu kumpul. Kedua anak laki-laki saya yang tadinya dianggap sampah, bisa berjiwa besar meminta maaf. Dan mereka membuat kesaksian itu didepan keluarga dan banyak orang… Kami semua menangis waktu itu”.
Nasihat orangtua yang mengalami masalah yang sama? “Orangtua hendaknya jangan takut kehilangan status, popularitas, atau kenikmatan hidup. Jangan takut berkorban untuk kepentingan anak. Kalau anak berhasil sembuh , pasti berkat lainnya akan datang”.
Jatuh bangun seorang wanita pecandu

Jatuh bangun seorang wanita pecandu
“Saya Yakin, Setiap Pecandu Bisa Berhenti!”
AGAK berat untuk mengingat masa lalu yang saya alami. Sedikit takut memang. Entah kenapa, ketika ingin bercerita saya harus berpikir keras. Sebagai seorang wanita, banyak yang telah saya alami dalam hidup ini, hidup yang tergolong kacau dan bandel. Khususnya tentang masalah narkoba. Dikerjain teman hingga mabuk sampai “ditiduri”, kabur dari rumah, berpacaran dengan bandar narkoba, sakaw di tempat kerja, dan berbagai hal nista lainnya. Karena narkoba itulah, hidup seperti angin berputar yang tidak tentu arah.
Itulah kisah ringkas Mona (bukan nama sebenarnya, Red.). Iapun tidak begitu setuju bila semua yang terjadi padanya dikatakan sebagai buntut dari perpisahan orang tua sejak ia menginjak sekolah dasar. Bersama dengan lima orang kakak laki-lakinya, Mona memilih tinggal bersama sang ibu. Perceraian itu, diakui Mona, berakibat pada hilangnya perhatian untuknya dan saudaranya yang lain. Hingga, dua orang saudara laki-lakinya juga terjebak dalam lembah hitam narkoba.
Kehidupan bandel Mona, dimulai ketika ia menginjak bangku SMP. Akibat dari pergaulan yang terlalu bebas, ia memulai kebiasaan merokok. Sejalan dengan itu, Mona akhirnya mulai mengenal dan mencoba ganja. “Minuman juga pernah coba, tapi gak terlalu sering.” tuturnya.
Perkenalan dengan ganja terjadi tanpa disengaja. Saat itu, kakak laki-lakinya sering membawa teman untuk menginap. Di rumahnya yang terbilang besar dan sepi, sang kakaknya sering menggelar pesta mabuk bersama teman-temannya. Akibat sering melihat kejadian itu, Mona jadi sangat mengenal seluk beluk orang mabuk. Buruknya, iapun jadi semakin ingin mencoba.
Pada suatu waktu ia bermain di kamar kakaknya. Di bawah kasur, ia menemukan daun ganja baik yang sudah dilinting ataupun yang masih dibungkus koran atau plastik. Jumlahnya lumayan banyak. Mona pun jadi berkesimpulan bahwa kakaknya dan teman-teman yang sering dibawanya tidak saja seorang “pemakai”, tapi juga seorang bandar.
Sekedar iseng, karena terbiasa merokok, Mona jadi sering mengambil ganja yang telah dilinting untuk dihisap. “Awalnya saya mau tahu, bagaimana sih rasanya. Katanya kalau ngisep ganja, matanya merah. Karena itu, sehabis menghisap, saya sering bercermin. Dan ternyata biasa aja. Cuma memang agak sedikit pusing.” ungkapnya mengenang.
Dijebak dan Diperkosa
Menginjak SMA, kehidupan bandel yang dilakoni Mona makin menjadi. Pergaulannya makin bebas. Di akhir pekan, ia sering tidak pulang untuk berkumpul dengan teman-temannya. “Saya mulai bandel untuk gak pulang. Cobain nongkrong-nongkrong, hingga masuk ke diskotik.” tutur anak bungsu ini.
Usia Mona masih 15 tahun saat menginjak kelas satu SMA, namun ia telah mengenal alkohol dan obat-obatan. Tidak sulit bagi Mona untuk mendapatkan 2 jenis barang haram itu untuk dikonsumsi bersama teman-temannya.
Satu waktu, Mona bertemu dengan teman yang dahulu sering nongkrong bersama. Sebut saja nama temannya itu T. Mona menyebut T itu sebagai “abang-abangan”, yaitu sebutan anak nongkrong untuk memanggil teman yang lebih tua. Oleh T, ia dikenalkan dengan seseorang yang dikatakan sebagai pemilik sebuah diskotik di daerah Jakarta Pusat. Bersama T, Mona sering berkunjung ke diskotik yang dimiliki oleh teman T tersebut. “Ketika main ke diskotik itu, sayapun sering ditraktir makan dan minum. Terkadang dikasih ongkos buat pulang.” jelasnya.
Suatu hari, ketika sedang berkunjung ke diskotik teman T tersebut, Mona mabuk berat. Ketika ingin pulang, iapun dicegah oleh T. Saat itu Mona ditawari agar tidak usah pulang dan dijanjikan untuk disewakan sebuah kamar hotel. “Biasanya, sehabis ke diskotik itu saya langsung pulang ke rumah. Namun, kalau tidak pulang saya juga langsung ke tempat teman dan nongkrong lagi di sana sampai pagi.” ucap Mona.
Ketika ditawarkan kamar hotel tersebut, iapun sempat berpikir macam-macam. Namun, karena ia percaya kepada T, pikiran itu tidak digubrisnya. Mona juga sempat dijanjikan oleh T bahwa apa yang ditawarkan adalah karena kepedulian terhadapnya. “Udah, lu masuk aja ke kamar. Masuk dan lu kunci dari dalam. Beres. Tinggal tidur dah lu!” ungkap Mona menirukan ucapan T.
Ketika terbangun dari tidur, dan masih di bawah pengaruh mabuk, Mona melihat seorang laki-laki yang tertidur sambil memeluknya. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya telah ditipu oleh T. Mona pun yakin ada “bisnis tersembunyi” untuk dirinya yang dilakukan oleh T.
“Ternyata dia berniat jelek. Mungkin dia berpikir, ah si Mona itu kan sering nongkrong dan pergi bebas bersama laki-laki. Jadi gampang aja. Padahal dia salah besar! Walaupun sering main dan nongkrong, saya bukan seperti yang dia kira.” geram Mona mengingat apa yang dirasakannya saat itu.
Kabur ke Jambi
Setelah kejadian itulah, kehidupan Mona berubah. Ia merasa malu dan bersalah. Peristiwa di malam jahanam itu tidak pernah diceritakannya pada siapapun, namun perasaan malu terus menyelimuti. Ia jadi malas untuk melakukan apapun dan makin sering tidak pulang ke rumah.
Tidak kuat menahan beban, Mona akhirnya bercerita kepada seorang teman. Saat itu terlintas di pikirannya untuk membunuh orang yang telah memperkosa dirinya. Dalam kekalutan, Mona mengajak sang teman untuk kabur dari rumah. Pulang dari sekolah, mereka berdua akhirnya pergi ke Jambi. “Saya pikir saya bisa menentukan jalan sediri.” tuturnya polos.
Di Jambi, mereka menetap di sebuah kamar kos. Di daerah asal lagu “Injit-injit Semut” ini, Mona bergaul dengan sekelompok anak motor. Ia pun menjalin hubungan dengan seorang anggotanya. Pria inilah yang terkadang membantu kebutuhan hidupnya. Dekat dengan keluarga sang kekasih, Mona sering menginap di rumahnya. Untuk memenuhi biaya hidup, terkadang Mona mendapatkan uang dengan bertaruh balapan motor.
Kehidupan yang jauh dari keluarga ini memang tidak jauh berbeda dari apa yang dialaminya di Jakarta. Nongkrong, masih menjadi rutinitas. Ritual mabuk-mabukan pun sering dilakukan. “Kalau di sana maboknya gak terlalu parah. Mungkin karena barangnya juga yang gak terlalu banyak.” ulas Mona.
Selama di Jambi, Mona tidak putus komunikasi dengan keluarga. Mona sering menelepon sang ibu, namun ia tidak pernah memberitahu di mana keberadaannya. Walaupun jauh dari Jakarta, pikiran untuk membunuh pemerkosa dirinya masih membara di benak Mona. Seakan ia tidak pernah lepas dari dendam kejadian nista tersebut.
Berkat nasehat dari kekasih dan teman-temannya, lama-kelamaan dendam itu hilang. Mona sering diberi pengertian, walaupun ia membunuh pria amoral tersebut, keperawanan dirinya tidak akan kembali lagi. Bahkan ia nantinya akan berurusan dengan pihak berwajib. “Saat itu saya hanya berpikir, bila membunuh orang itu nanti keluarga akan tahu apa alasan-alasan yang menyebabkan saya jarang pulang dan kabur dari rumah.” geramnya.
Kembali ke Jakarta dan Kecanduan Putaw
Setelah satu setengah tahun menetap di Jambi, Mona akhirnya kembali ke Jakarta pada awal 1996. Saat pulang ke Jakarta, ia tidak langsung ke rumah. Kebetulan ia bertemu dengan teman akrabnya kala SD yang bekerja di daerah Daan Mogot, Jakarta Barat. Bersama temannya pula Mona menetap dan dibiayai untuk menyewa sebuah kamar kos di daerah Kota, Jakarta Utara.
Tidak diduga, penghuni kos sebelah kamarnya adalah seorang bandar putaw. Monapun akrab dengannya. Alih-alih menumpang untuk meracik narkoba dagangan, sang bandar sering datang ke kamar Mona. Dengan tangan terbuka, iapun mempersilahkan sang bandar untuk memakai kamarnya. “Kebetulan kamar yang saya tempati ada AC, dengan alasan itu pula bandar tersebut lebih betah di sana,” tutur Mona.
Sambil meracik, sang bandar sering menawarkan contoh barang dagangan ke Mona. Tanpa segan, Mona pun mencoba memakai putaw tersebut dengan cara di-drugs, yaitu dibakar dan dihisap uapnya. “Setiap hari dia ke kamar. saya dan teman sering dikasih tester putaw dengan gratis. Tapi setelah melihat kita sudah sakaw, iapun jadi tidak numpang meracik lagi. Mau tidak mau kita yang berganti pergi ke kamarnya untuk meminta putaw. Malah dia terkadang tidak memberi bila kita meminta, hingga akhirnya terpaksa harus membeli.” ingatnya kesal.
Mulai dari situ diri Mona kecanduan putaw. Setiap hari ia ketagihan. Kehabisan uang dan tidak tahu mesti berbuat apa lagi, dalam keadaan sakaw, Mona memberanikan diri pulang ke rumah.
Coba Jarum Suntik
Pulang ke rumah, yang ada di pikiran Mona adalah cara mendapatkan uang untuk membeli putaw. Disekolahkan kembali oleh sang ibu, Mona pun memanfaatkan keadaan dengan alasan klise untuk mendapatkan uang, seperti membeli buku, bayar uang sekolah, dan lain-lain. Tamat SMA, Mona mengikuti kursus di sebuah lembaga pendidikan bahasa. Di situlah ia bertemu kembali dengan mantan pacarnya. “Ia sudah beristri, namun katanya ia sayang sama saya. Ia sering memberi uang yang akhirnya saya pergunakan untuk membeli putaw,” papar Mona.
Lulus dari tempat kursus, Mona kembali pergi dari rumah dan ngekos. Di situ ia diajak oleh seorang teman untuk bekerja di sebuah diskotik. “Awalnya pacar saya selalu memberi uang. Ketika mengetahui saya adalah pemakai, iapun memutuskan saya. Di situlah saya kehabisan uang sampai akhirnya kerja di diskotik.” Kenang Mona.
Saat terjadi kerusuhan di bulan Mei 1998, Mona kesulitan mendapatkan putaw. Saat itu dia mendatangi seorang bandar yang hanya mempunyai putaw dalam bentuk cair dan harus dipakai dengan disuntik. Dengan sangat terpaksa, Mona pun mencoba memakai putaw dengan cara disuntik. Kenikmatan yang berbeda pun dirasakan Mona. Sejak itulah ia selalu memakai putaw dengan cara disuntik.
Sakaw di Tempat Kerja, Pacaran sama Bandar
Tahun 1999, Mona mulai kehabisan uang. Jangankan untuk membeli putaw, untuk biaya hidup sehari-hari sangatlah susah. Dalam keadaan sakaw, ia kembali pulang ke rumah. Saat itu Mona dalam pengaruh Leksotan - yaitu sejenis obat yang menurut para pengguna putaw dapat menghilangkan rasa sakaw - Mona mulai cerita pada ibunya semua kejadian yang menimpa selama ini.
Setelah itu, Mona dimasukkan dalam program terapi Rumah Sakit Fatmawati. Dalam pengobatan itu ia berobat jalan. Selama hampir dua bulan Mona menjalani pengobatan di rumah. Setelah pulih, Mona mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan air minum. Sibuk bekerja, iapun lupa dengan narkoba. Diakuinya, disitu ia benar-benar jauh dari segala jenis narkoba, terkecuali merokok. Kehidupan normal itu hanya berlangsung tiga bulan. Satu saat Mona bertemu dengan seorang rekan kerja pecandu putaw. Sebut saja namanya W.
Awalnya Mona tidak tahu bahwa ia pecandu. Namun, karena sering berbincang dengan W, lambat laun Mona tahu. Ternyata, W dan istrinya adalah pasangan pemakai putaw. “Yah, namanya pemakai. Kalau ketemu, ngobrol pasti nyambung aja. Mungkin karena kesamaan nasib,” ujar Mona pelan.
Faktor sugesti dan juga pengaruh W, akhirnya Mona kembali mencoba putaw yang telah ia tinggalkan. Setiap jam makan siang, pastilah W datang dan membawa putaw. Mereka memakainya berdua. Karena pendapatan W lebih rendah, terkadang uang untuk membeli putaw berasal dari Mona.
Karena kebiasaan barunya itu, Mona tergoda untuk menghubungi teman-teman lamanya yang merupakan bandar narkoba. Bila ia dapat membeli sendiri tanpa W, pastilah putaw yang ia dapatkan akan lebih cukup untuk dipakai sendiri, pikir Mona saat itu. Setiap jam makan siang, dengan menggunakan ojek, Mona mendatangi bandar-bandar kenalan lamanya. Mona jadi sering sakaw di kantor, bahkan di saat jam kerja.
Uang gaji pun akhirnya terpakai untuk belanja putaw. Sampai ia bertemu dengan seorang bandar yang tertarik kepadanya. Kesempatan itupun digunakan oleh Mona. Ia menjalin hubungan dengan sang bandar. “Lumayan saya pacarin dia. Kadang-kadang saya bisa dapat barang gratis. Waktu itu saya kalau beli kan pakai ojek, dia juga yang kadang bayarin tuh ojek.” ujar Mona.
Dukungan Orang Tua yang Berarti
Karena tindak-tanduk sang putri bungsu mulai aneh lagi, orang rumah mulai curiga. Hampir delapan bulan Mona memakai putaw sambil bekerja. Rekan-rekan kerjanya tahu dan mengadukan Mona ke atasan. Mona akhirnya dikeluarkan. Dengan sedikit tipu daya, orang tuanya kembali memasukkan ke sebuah panti rehabilitasi di daerah Bintaro, Jakarta Selatan.
“Waktu itu aku sedang sakaw di rumah, saya minta uang pada orang tua. Kemudian ibu menawarkan untuk ikut dengannya dahulu baru dikasih uang. Ternyata saya dibawa ke panti rehabilitasi.” cerita Mona.
Sebelas bulan lamanya Mona menjalani proses terapi. Hingga akhirnya, di awal 2002, ia kabur dari panti rehabilitasi tersebut, dan kembali ke rumah. Mona kembali mendapatkan pekerjaan di sebuah toko kaset. Ia menyewa sebuah kamar kos lagi sambil bekerja. Suatu waktu ia bertemu mantan kekasihnya yang seorang pemakai. Pengaruh narkoba pun kembali hinggap dalam kehidupan Mona.
Setelah itu ia menjalani kehidupan kembali sebagai pemakai narkoba. Hingga akhirnya, ia terkena jangkauan sebuah lembaga yang menangani pecandu narkoba di wilayah Cideng, Jakarta Barat. Lembaga itu bergerak dalam pengurangan dampak buruk dari narkoba, khususnya pecandu yang menggunakan jarum suntik.
Tidak lama setelah itu, Mona pun ditawarkan untuk menjalani terapi substitusi dengan menggunakan Metadon yang ia jalani hingga kini. Menurut Mona, dosis yang dipakai dalam terapinya kini adalah 5 mg. Iapun berharap, dosisnya berkurang lagi di kemudian hari hingga akhirnya ia tidak perlu menggunakan apa-apa lagi.
Dikatakan Mona, seorang pecandu narkoba bila ingin berhenti harus dari keinginan hatinya sendiri. Mona yakin, setiap pecandu bisa berhenti! Iapun mengakui, dukungan orang tuanya sangat besar dirasakan olehnya. Orang tuanya pun akhinya bersatu kembali dan tinggal bersama hanya untuk membenahi apa yang terjadi pada Mona dan juga kakak-kakaknya. “Mereka pernah bilang, mereka rujuk kembali hanya untuk anak-anaknya. Dan hal itu dirasakan sangat berarti bagi saya dan juga semuanya.” tutur Mona mengakhiri pembicaraan. (IR)
Bandar Harus Dihukum Mati, Pemakai Harus Diselamatkan

Penuturan HM Kamaluddin Lubis, SH –
ayah seorang putra korban penyalahgunaan narkoba
Bandar Harus Dihukum Mati,
Pemakai Harus Diselamatkan
Korban narkoba bukanlah penjahat, tetapi korban dari kejahatan orang lain.
Korban narkoba bukan aib keluarga, tetapi bencana nasional.
DIAKUI HM Kamaluddin Lubis, SH, banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik sejak adanya musibah yang menimpa keluarganya. Usaha dan sikapnya saat ini, merupakan cermin dari sikap dan usaha yang dimiliki oleh putranya M. Baron Bahri Lubis (alm.) yang meninggalkan dirinya akibat jerat narkoba. Kamal, panggilan akrab Kamaluddin – menceritakan bahwa putra ketiganya sangat gigih dalam membantu teman-temannya yang mempunyai nasib seperti dirinya untuk sembuh dari jeratan narkoba. “Mungkin karena ia juga merasakannya,” ungkap Kamal.
Kamal bercerita, putranya selalu meminta kepada siapapun agar jangan pernah ada pasien penyalahguna narkoba yang ditolak untuk direhabilitasi. Karena sikap anaknya itu pula, yang kian mendorong Kamal untuk lebih peduli terhadap para korban narkoba. Ia pun jadi lebih memahami dan menguasai permasahan narkoba.
“Dia meminta agar jangan ada pasien yang ditolak untuk direhabilitasi walaupun orang tersebut kurang mampu. Mendorong saya untuk lebih banyak lagi membantu orang lain yang membutuhkan bantuan. Kemudian saya dapat berbagi pengalaman dan cerita dengan sesama keluarga yang mempunyai masalah narkoba. Dan ini membuat saya lebih banyak menguasai permasalahan narkoba. Hikmah lainnya saya sadar bahwa Tuhan lebih cepat mengambil anak saya karena Tuhan sayang sama dia dan ini membuat hidup saya lebih tenang. Dan kepedulian terhadap keluarga sendiri maupun keluarga besar kami pun jadi lebih tinggi.“ lirih pengacara asal Medan, Sumatera Utara ini menuturkan.
Awalnya terkejut
Mulanya, Kamal sangat terkejut ketika mengetahui Baron – begitu sapaan akrab putra ketiga dari empat anaknya - telah terperangkap dalam penyalahgunaan narkoba. Namun, lama-kelamaan Kamal dapat menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada. Baginya, almarhum Baron adalah anak yang terbuka. Ia juga menilai, putranya memiliki sifat penggembira, dekat dengan keluarga, dan mudah bergaul tanpa membeda-bedakan miskin dan kaya.
Ditambahkan, Baron juga seorang anak yang aktif berorganisasi baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Menurut Kamal, almarhum anaknya sangat dekat dengan dirinya dibanding dengan ibunya. “Kami sering pergi berdua dan bercerita tentang segala hal. Dia juga sering curhat dengan saya,” kenang pria yang genap berusia 66 tahun ini.
Diungkapkan, almarhum Baron pertama kali memakai narkoba ketika kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Akibat dari pergaulan pula, menurut Kamal, anaknya terjerumus dalam kebiasaan tidak sehat tersebut. Saat itu Baron mulai mencoba kebiasaan merokok. “Lama kelamaan, ganja dicobanya.” tutur Kamal.
Dirinya juga tidak setuju bila dikatakan bahwa penyebab sang anak bisa terjerumus dalam dunia narkoba dikarenakan kesibukannya yang menyebabkan kurang perhatian kepada anak-anak. “Saya memang sibuk, tapi ibunya tetap di rumah untuk melayani keluarga. Kebersamaan dan kasih sayang selalu ada dalam keluarga. Kami selalu bepergian bersama ketika hari libur. Saya rasa itu tidak menjadi masalah bagi keluarga saya.” tegasnya.
Iapun mengakui, pola pendidikan yang diterapkan dalam keluarga pun sebenarnya telah bisa untuk membentengi anak-anaknya dari hal-hal negatif. Dikatakan oleh Kamal, pendidikan yang ditempakan dalam keluarga adalah pendidikan yang bebas dan bertanggung jawab. Maksudnya, anak-anak diberi kebebasan dalam memilih segala hal, mulai dari pendidikan, cita-cita, teman-teman, dan kegiatan luar rumah. Namun, kata Kamal, semua yang dipilih harus dipertanggungjawabkan dengan benar. “Contohnya, saya harus dikenalkan dengan keluarga teman-temannya. Kemudian belajar dengan benar sesuai yang dicita-citakan,” ujarnya lagi.
Lakukan pendekatan
Setelah terkena narkoba, kata Kamal, sifat Baron memang sedikit berubah. Perbedaan fisik tidak ada, dan perbedaan psikis juga pada awalnya tidak tampak. Namun, lambat laun Baron jadi sering malas berkumpul dan bercerita dengan orang rumah serta mulai menjauhkan diri dari aktivitas keluarga. “Emosinya suka berubah-ubah. Suka marah-marah tanpa sebab, suka berbohong dan menjuali barang-barang pribadinya. Akhirnya barang-barang dalam rumah, ada juga yang dicuri dan dijualnya.” tutur Kamal.
Setelah mengetahui anaknya telah terjerat narkoba, Kamal tidak menyalahkan ataupun memarahinya. Namun, ia langsung melakukan pendekatan yang lebih dalam. Kesibukannya sedikit demi sedikit dikurangi, dan ia lebih sering meluangkan waktu untuk berbincang dan membicarakan masalah yang dihadapi sang anak.
Tidak sedikitpun perlakuan dirinya terhadap Baron berubah. Malah, ia lebih semakin dekat dengan Baron. Dalam pendekatannya, Kamal memposisikan diri sebagai seorang sahabat. Alasan utamanya agar lebih merasa dekat dan terbuka. “Sehingga dia merasa diperhatikan, disayangi, dan tidak diperlakukan sebagai orang yang bersalah.” jelas lulusan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) ini.
Usaha pemulihan Baron tidak dilakukan Kamal secara sendirian. Sikap isterinya, Hj. Retni Rengsih, SH., CN., diakuinya hampir sama dengan dirinya. Terlebih, sang istri tampak tenang dalam menghadapi musibah yang menimpa. Dengan cara bersama, masalah yang terjadi pun diselesaikan.
“Kami selalu berembuk untuk menyelesaikan permasalahan dan kami saling instropeksi diri mengapa anak bisa terjerumus menyalahgunakan narkoba. Pertentangan untuk saling menyalahkan satu sama lain juga diakui Kamal tidak terjadi sama sekali antara ia dan istri. Tidak ada yang saling menyalahkan. Kami saling instropeksi diri mengapa anak kami dapat terjerumus dalam menyalahgunakan narkoba,” papar pria yang kini mengabdi sebagai dosen di almamaternya ini.
Empat tempat rehabilitasi
Tidak hanya usaha pendekatan. Kamal juga melakukan upaya pengobatan lain bagi anaknya, termasuk memasukkannya ke panti rehabilitasi. Saat pertama kali menawarkan panti rehabilitasi, anaknya langsung menerima dan tidak menolak untuk berobat. “Dia tidak menolak untuk berobat. Malah dengan keinginannya sendiri Baron mau berobat ke panti rehabilitasi. Itu sangat membantu kami dalam proses pemulihannya.” tutur Kamal.
Rentetan cerita panjang pun keluar dari mulut Kamal, tentang berbagai lokasi rehabilitasi yang disambanginya. Tempat pertama yang didatangi adalah pondok pesantren asuhan Abah Anom di Suryalaya, Tasikmalaya. Di tempat ini Baron menjalani terapi selama enam bulan lamanya. Setelah itu, Kamal membawa sang putra ke Klinik Ketergantungan Obat “Poso” di Medan selama satu bulan. Baron juga sempat menjalani pengobatan hingga ke negeri tetangga Malaysia, yakni Pengasih selama satu tahun. Kemudian, terakhir kali Kamal membawa anaknya ke Sibolangit Centre yang juga menghabiskan waktu selama satu tahun.
Meski mengikuti berbagai usaha terapi dan rehabilitasi, almarhum Baron tetap menunaikan kewajiban pendidikannya. “Selama menjalani pengobatan, pendidikannya tetap berjalan. Sehingga ia masih memperoleh pengetahuan dan ilmu untuk masa depan.” papar Kamal.
Ketika melakukan usaha rehabilitasi bagi putranya, satu kenangan abadi yang selalu diingat Kamal adalah rasa setia kawan yang begitu besar yang dimiliki oleh Baron. Menurut Kamal, Baron seakan tidak bisa sama sekali melepaskan relasi dengan teman-temannya sesama pengguna narkoba. Karena hal inilah semakin lama putranya makin terjerat dengan berbagai jenis narkoba. “Mungkin karena rasa solidaritasnya yang tinggi.” simpul Kamal.
Lebih tergerak di bidang narkoba
Peristiwa yang menimpa dirinya diakui Kamal tidak mengubah pandangannya terhadap narkoba. Sebagai seorang yang bergerak di bidang hukum, sejak dulu dirinya telah tahu mengenai permasalahan narkoba, terlebih mengenai bahayanya. Diakui Kamal, sebelum anaknya terlibat narkoba, dirinya telah berbuat banyak untuk penanggulangan masalah narkoba. “Saya sudah banyak informasi tentang itu (narkoba. Red) dan ikut menyebarkan informasi bahaya narkoba kepada masyarakat.” ucapnya.
Namun, motivasi untuk berbuat lebih banyak lagi dalam bidang penanganan masalah narkoba kian terdorong setelah anaknya menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Atas dorongan putranya pula, dirinya tergerak untuk mendirikan sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang P4GN (Pencegahan Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) yang bernama Yayasan Gerakan Anti Narkoba dan sebuah tempat rehabilitasi bernama Sibolangit Centre.
Dengan semangat Kamal pun berpesan kepada para orang tua. Menurutnya, bagi orang tua yang mempunyai anak yang telah terjerumus narkoba, jangan pernah putus asa dalam proses pemulihan mereka. Sebab, bagi Kamal seorang anak yang telah terkena pengaruh narkoba harus diselamatkan dan berhak mendapatkan jati dirinya kembali dengan bantuan dan dukungan dari orang tua. Sebaliknya, penggalian informasi yang benar tentang narkoba dan gejala-gejalanya sejak dini, merupakan hal yang harus diketahui bagi orang tua yang anaknya belum menjadi korban narkoba.
Sebagai orang yang bergelut di bidang hukum, dirinya pun mengkritik para penegak hukum yang terjebak dalam pasal-pasal yang kering sehingga mereka menganggap bahwa korban narkoba adalah penjahat yang harus dihukum. Di masyarakat sendiri, tambah Kamal, masih banyak yang belum paham tentang permasalahan narkoba. Banyak yang memandang, korban narkoba merupakan aib bagi keluarga yang harus ditutup-tutupi. “Mereka penjahat, sampah masyarakat, dan pemakai narkoba hanyalah anak orang kaya.” ketus Kamal akan persepsi yang salah tersebut dengan sedikit kesal.
Bagi Kamal, permasalahan narkoba merupakan masalah yang harus didahulukan dan ditangani secara serius sesuai dengan hukum dan undang-undang narkoba yang berlaku di Indonesia. Kata Kamal, dirinya ingin mengubah pandangan masyarakat dan lembaga pengadilan bahwa sebenarnya pemakai narkoba itu bukanlah penjahat.
“Mereka korban kejahatan orang lain dan harus diselamatkan. Jadi terdapat perbedaan dan klarifikasi antara pemakai murni, pengedar dan bandar, sehingga vonis yang dijatuhkan sesuai dengan perbuatan mereka. Seorang bandar harus dihukum mati karena mereka adalah pembunuh tanpa berdarah, dan seorang pemakai harus diselamatkan karena merupakan korban dari kejahatan orang lain,” pesannya tegas menutup perbincangan. (IR)
Kisah Nyata – SADAR September (hal. 29-33)
Pernah Menggelandang di Jalanan

Yoan Tanamal
Pernah Menggelandang di Jalanan
SECARA penuh, dirinya telah clean dari narkoba. Saat inipun kesibukannya kerap dipenuhi dengan mengisi berbagai acara penyuluhan kepada korban narkoba. Terkadang, ia juga rela berbagi cerita mengenai pengalamannya ketika terjerat narkoba. Kepada SADAR, mantan penyanyi cilik di era 70-an inipun rela meluangkan waktunya bercerita.
Yohana Maria Frances Tanamal, atau biasa disapa dengan Yoan Tanamal. Pada bulan Juni 2002, berbagai pemberitaan ramai menurunkan laporan mengenai dirinya. Pasalnya, saat itu puteri dari pasangan musisi Enteng Tanamal dan artis Tanty Yosepha ini tertangkap tangan oleh polisi ketika ingin membeli putaw di suatu kawasan di Jakarta. “Ternyata, tempat yang saya datangi untuk membeli narkoba tersebut telah diawasi oleh polisi sejak lama.“ akunya ringkas.
Diakui Yoan, sebenarnya saat itu ia ingin mengunjungi pengasuhnya. Namun, pada saat yang bersamaan dirinya mengalami sakaw. Akhirnya, iapun banting stir untuk mampir membeli putaw terlebih dahulu. Dalam keadaan sakaw, di tempat transaksi itulah ia tertangkap.
Ruang tahanan Polres Jakarta Selatan akhirnya menjadi tempat persinggahan Yoan. Kurang lebih 50 hari lamanya ia mendekam di ruang pesakitan tersebut. Ia tidak bisa bebuat apa-apa lagi dan hanya bisa menerima segala hukuman yang ditimpakan kepadanya. “Lima puluh hari memang bukan waktu yang lama. Tapi, saya merasa sampai busuk berada di situ. Harga barang memang cuma 50 ribu. Tapi tuntutannya seumur hidup dan mati.” kenang Yoan.
Yoan akhirnya dipindahkan ke Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Berbagai penyesalan terhadap segala kelakuan buruk yang pernah ia lakukan, selalu menghinggapi pikirannya. Namun, akibat hal itulah ia mengaku banyak menemukan berbagai pencerahan. “Di situlah saya lebih bersyukur terhadap segala yang diberikan oleh Tuhan selama ini. Saya jadi lebih berpikir bahwa sebenarnya Tuhan sangat banyak memberikan keberkahan kepada saya. Termasuk orang-orang di sekitar saya yang sangat perhatian dan peduli kepada saya.” tutur Yoan dengan mata berbinar.
Mencoba Obat Penenang
Sebelumnya, pelantun lagu Si Kodok ini bercerita tentang awal mula dirinya terlibat dengan narkoba. Saat itu, bangku Sekolah Menengah Atas sedang dikenyamnya. Umurnya masih 16 tahun.
Dari sekolah menengah pertama, Yoan remaja memang sudah nakal. Namun, baru ketika SMA kenakalannya makin menjadi. Secara gamblang ia mengakui, peristiwa perceraian yang menimpa orang tua tercinta memang sangat mempengaruhi kehidupannya. Namun, dengan tegas ia menolak jika perceraian tersebut dijadikan faktor utama penyebab segala kelakuan buruknya. “Saya sendirilah penyebabnya.” ujar Yoan.
“Hal itu (peristiwa perceraian orang tua) memang mempengaruhi saya. Namun, saya menganggap
bahwa segala hal buruk yang saya lakukan berasal dari diri saya sendiri. Termasuk pilihan untuk terjebak dalam dunia narkoba.” tutur artis yang saat ini turut berperan dalam sinetron Dunia Tanpa Koma (DTK).
Menurut Yoan, banyak jenis obat penenang yang ditenggaknya saat itu. Seperti Magadon, Rohipnol, Dumolit, dan lain sebagainya. Teman-temannya saat itu juga banyak yang mempunyai berbagai masalah dan akhirnya menjadikan obat-obatan sebagai pelampiasan. “Jadi, senasib sepenanggungan lah. Tapi cara pelimpahannya saja yang salah.” Yoan menambahkan.
Tidak hanya obat penenang, saat itupun ia sering meminum minuman keras dan juga menghisap ganja. Semua itu dilakukan bersama teman-temannya. Singkat kata, hampir dua tahun Yoan menjalani kebiasaan tersebut.
Diterapi oleh Ibu Sendiri
Pihak sekolah pun curiga melihat kelakuan Yoan yang semakin hari semakin mencurigakan dan aneh. Di awal tahun ketiga SMA, akhirnya pihak sekolah memanggil orang tua Yoan. Sang ibu pun datang menghadap.
Ketika menghadap pihak sekolah, wanita berkulit putih itu sama sekali tidak membela putrinya. Malah, beliau seperti lepas tangan. Menurut Yoan, ibunya tahu bahwa anaknya yang bersalah dan pasrah terhadap sanksi apapun yang akan diberikan. “Bila memang dimungkinkan keluar, keluarkan saja dia.” ucapnya menirukan perkataan ibunya saat itu.
Namun, pihak sekolah masih bersikap lunak. Yoan hanya diberi sanksi wajib lapor setiap dua jam sekali selama dua minggu lamanya. Setiap dua jam Yoan harus melapor kepada guru Bimbingan Konselingnya bahwa ia masih dalam keadaan sadar dan tidak dalam pengaruh obat-obatan atau apapun.
Tanpa protes, segala sanksi yang ditimpakan kepadanya diterima dan dijalani. Bahkan, oleh ibunya banyak aturan yang akhirnya diterapkan. “Khususnya tentang makanan dan minuman. Semua yang dimakan harus sehat dan teratur. Pokoknya, seperti menjalani terapi yang dilakukan oleh ibu saya sendiri. Terapi mandi air panas dan air dingin.” tuturnya mengenang.
Hampir lebih dari seminggu perawatan diberikan oleh sang ibu kepada Yoan. Sejak saat itulah Yoan jauh dari obat-obatan dan bahan memabukkan lain yang penah dikonsumsinya. Hingga, iapun lulus dari sekolah menengah dan melanjutkan kuliah.
Kepergian Ibunda
Cobaan pun datang lagi. Secara lirih Yoan bertutur bahwa ibunda tercintanya divonis kanker oleh dokter. Dua jenis kanker ditemukan, yaitu kanker kelenjar getah bening dan kanker darah. Gejolak kehidupan pun mulai terasa. Terlebih, ekonomi keluarga juga sedikit terguncang. “Untuk satu kali kemoterapi aja, biayanya hampir 15 jutaan. Dan itu butuh berkali-kali.” ucap alumnus Sastra Inggris Universitas Indonesia ini.
Setelah enam bulan menjalani perawatan, tepat tanggal 22 November 1998, Yoan pun ditinggalkan selamanya oleh ibunda tercinta. Vonis dokter awalnya menyebutkan bahwa artis lawas yang tetap cantik di usia senjanya itu tidak akan bertahan hingga lebih dari enam bulan. Namun, kenyataannya hampir enam tahun lamanya ibu dari 2 anak ini dapat bertahan hidup.
Setelah sang bunda wafat, Yoan goyah kembali. Sikap tertutup dan pesimis kembali hinggap. Dua hari setelah peristiwa duka itu, ia dihinggapi rasa penyesalan yang begitu dalam. Saat itu Yoan langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu serapat-rapatnya.
Di dalam kamar gelap itulah putri sulung ini larut dalam kekecewaan mendalam. Ia merasa menyesal hidup di dalam keluarga yang penuh dengan kejadian yang menyesakkan. “Mau Tuhan apa sih? Mengapa saya hidup di dalam keluarga yang seperti ini?” ingatnya menirukan pertanyaan-pertanyan yang tercetus.
Ketika mengingat masa itu, Yoan sebenarnya juga sangat menyesal. Saat itu ibunya baru saja meninggal, namun ia malah berkutat dengan rasa pesimis yang menjadi-jadi. Ditambah lagi, ia harus berpikir untuk mengurus satu orang adiknya. Sampai-sampai, saat larut dalam penyesalan itu Yoan berkomitmen untuk tidak percaya lagi kepada Tuhan dan tidak ada Tuhan lagi dalam dirinya. “Padahal, saya juga berbicara seperti itu sambil menangis terisak-isak.” tuturnya datar.
Terjerat Putaw
Selang berapa lama dari kejadian tersebut, Yoan pun bekerja. Namun, di situ pula ia kembali terjerat narkoba. Saat itu putaw yang dicobanya. Dari cara dihisap hingga akhirnya disuntik, dijalankannya untuk narkoba jenis itu. Yoan tergolong parah dalam tingkat kecanduannya akan putaw. Dalam sehari saja, ia dapat menghabiskan 2 gram putaw. “Bahasa kerennya mah 2 gaw. Padahal untuk putaw sebanyak itu, uang yang dikeluarkan hampir 500 ribuan.” ujar artis yang turut berperan dalam film layar lebar “Detik Terakhir” ini.
Sambil bekerja, hidup Yoan dibuntuti oleh narkoba. Menurut pengakuannya, setiap setengah jam sekali ia harus mengkonsumsi putaw. Sampai-sampai, lemari loker tempat kerjanya pun penuh dengan alat-alat untuk memakai narkoba. Namun, walaupun saat itu harus mengeluarkan uang yang cukup besar untuk narkoba, perhatian kepada adiknya tidak pernah dilewatkan. Yoan tetap berusaha untuk menyisihkan penghasilannya membiayai sekolah adiknya semata wayang.
Dua Bulan di Jalanan
Saat itu, ibu asuh yang turut membesarkan Yoan sejak umur satu tahun, menyuruhnya pergi ke psikiater. Iapun menurut. Lebih dari satu kali Yoan pergi ke psikiater. Namun, tetap saja ia tidak bisa lepas dari putaw. “Kalau di salah satu psikiater itu ada obat yang diberikan untuk menghilangkan sakaw. Karena pemakai narkoba itu pastilah banyak trik, saya akhirnya beli obatnya sendiri. Jadi tanpa ke psikiater pun saya bisa minum obat itu dan mengontrol kapan saya bisa pakai putaw dan kapan saya harus minum obat tersebut. Lama-lama, karena zat tersebut bercampur, makin kacaulah saya.” terang Yoan.
Setelah itu, Yoan pun berhenti bekerja. Barang-barang miliknya sering dijual sekedar untuk membeli putaw. Hingga suatu saat, Yoan mengakui, bahwa ia pernah merasakan hidup di jalanan selama dua bulan. Saat itu ia tidak tentu arah, hingga tidur pun di pinggir rel kereta dan makan satu hari sekali. “Sampai saat ini, bila sedang berada dalam perjalanan dan melihat orang-orang yang hidup di jalan, saya jadi teringat pengalaman saya. Saya sering berkata dalam hati bahwa saya pernah merasakan itu.” ujarnya sambil menerawang.
Sembuh dengan Diri Sendiri
Saat masa-masa homeless itulah Yoan akhirnya tertangkap oleh polisi dan akhirnya dipenjara seperti diceritakan pada awal tadi. Empat tahun dirinya mengkonsumsi putaw, hampir tiga kali dirinya mengalami over dosis. Dalam waktu itu pula ia merasa sangat hancur dan sangat tidak berguna. Segala benda-benda miliknya habis terjual dan iapun menjauh dari sang adik.
Namun, Yoan pun akhirnya berpikir ulang. Diakui, dirinya sama sekali tidak pernah masuk panti rehabilitasi manapun. Namun, sampai sekarang ia dapat meninggalkan pengaruh narkoba yang pernah menghinggapinya. Ia dibebaskan setelah satu tahun menjalani masa tahanan. Saat ini, Yoan sangat bersyukur bahwa Tuhan masih melindunginya saat itu. “Sebab, walau apapun saya jual untuk mendapatkan barang haram tersebut, saya masih dilindungi oleh Tuhan bahwa saya tidak sampai terjerumus untuk menjual diri.” ungkap wanita yang sampai saat ini masih mengagumi almarhum ibunya.
Yoan menyimpulkan, bahwa secara fisik pengguna narkoba itu memang dapat sembuh, namun secara pikiran mereka susah untuk meninggalkannya. Karena itu, keinginan berhenti dan sembuh haruslah datang dari diri sendiri, bukan dari orang lain. “Buatlah hidup ini berguna.” ucapnya tegas menutup pembicaraan malam itu dan pamit pulang. (IR)
Kisah Nyata – SADAR Okt 06 (Hal. 29-33)
“Ternyata Dia Bisa Juga Terpeleset”

Ana Maria
“Ternyata Dia Bisa Juga Terpeleset”
KEBANYAKAN orang berpikir bahwa narkoba hanya menimpa orang yang bermasalah, entah broken home, ribut dengan pasangan, pengangguran, dan lain-lain. Pokoknya narkoba itu identik dengan masalah. Tetapi asumsi itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Ternyata orang yang hidupnya bahagia dan sukses pun bisa terkena narkoba. Roy Marten contohnya. Artis senior yang terkenal pada era tahun 70-an ini pada bulan Februari tahun 2006 ini, tertangkap basah sedang nyabu (memakai obat jenis shabu).
Kita mungkin bertanya-tanya mengapa seorang Roy Marten bisa dan mau menggunakan narkoba. Untuk apa Roy menggunakan narkoba? Padahal kurang bahagia apa seorang Roy Marten? Harta berlimpah, keluarga harmonis, memiliki istri yang cantik, ketenarannya belum pudar di usia tua, juga ketampanannya. Singkat kata Roy sudah memiliki semua kenikmatan dunia.
Karenanya, pada Rubrik Kisah Nyata kali ini SADAR menampilkan sosok Roy Marten dari sisi pasangan hidupnya, Ana Maria - agar menjadi pelajaran berharga bagi kita semua bahwa narkoba bisa mengenai siapa saja, dari anak-anak sampai orang tua, laki-laki dan wanita, yang bahagia maupun yang bermasalah, orang awam ataupun selebriti terkenal.
Bagaimana kisah seorang Roy menurut penuturan istri tercintanya? Apa sebenarnya yang menjadi penyebab Roy memakai narkoba? Berikut penuturan Ana Maria yang ditemui oleh SADAR di kediamannya di Jalan Meriam G 109, Kalimalang - Jakarta Timur. Wanita yang tetap terlihat cantik walaupun sudah berumur 40-an ini, mengenakan celana jeans berwarna biru muda yang dipadukan dengan kaos putih polos. Dengan ramah ia menyambut kedatangan SADAR dan bersedia berbagi kisah suami terkasihnya, Roy Marten.
Roy Marten di Mata Ana Maria
Terlepas dari permasalahan yang dihadapi oleh Roy, Ana Maria mencoba tetap tegar dan terus mendampingi sang suami dalam setiap proses persidangan. Walaupun sebenarnya, ujian ini bagaikan petir di siang bolong bagi dia dan anak-anaknya. Bagaimana tidak. Di saat kebahagiaan, kedamaian, keceriaan, dan kesuksesan yang tengah dirasakannya sekeluarga, tiba-tiba orang yang menjadi pemimpin, pemberi nafkah, penuntun keluarga harus diambil dari mereka dan disekap di penjara akibat tersangkut masalah narkoba. Maka kebahagiaan, keceriaan, dan kedamaian, seketika berubah menjadi kesengsaraan dan penderitaan. Wajahnya tersenyum, tetapi kesedihan yang begitu dalam tampaknya coba disimpan jauh di lubuk hatinya. Dengan didahului helaan nafas, mulailah Ana menuturkan kisahnya.
“Mas Roy itu orang yang menyenangkan. Dia selalu ingin membahagiakan keluarga. Sebetulnya dia itu banyak banget sisi positifnya. Dia itu murah hati. Saya senang karena dia itu selalu tersentuh kalau ada orang-orang yang kesulitan, teraniaya. Hatinya lembut. Dia juga romantis dan selalu menyenangkan saya. Humoris dan bisa jadi temen buat anak-anak, bisa jadi ayah, guru, komplit sebetulnya. Makanya saya juga agak syok. Ternyata di balik semua kelebihannya itu dia bisa tergelincir ke sini (narkoba, Red.). Agak-agak di luar dugaan saya memang.” tutur Ana.
Nakal Sedari Kecil
Roy Marten nakal. Ini diucapkan sendiri oleh Ana. Tetapi menurut wanita berkulit putih bersih ini, nakalnya adalah nakal biasa, yakni nakal laki-laki pada umumnya. Yang perlu ditekankan adalah kenakalan Roy Marten tidak pernah tergolong kriminal. “Mas Roy itu bukan seorang bajingan, dia laki-laki yang gentle,” jelas Ana.
Menurutnya, kenakalan aktor yang membintangi film Cintaku di Kampus Biru ini sudah dari kecil. Kebut-kebutan di jalan, sering bolos sekolah, tidak naik kelas, dan senang kalau dikeluarkan oleh gurunya dari kelas, adalah sebagian kecil kenakalan seorang Roy Marten. Ulah Roy, menurut Ana diakibatkan karena dia sering diolok-olok sebagai seorang anak keturunan Belanda. “Anak indo itu memang punya kecenderungan nakal ya, jadi gak diterima di mana-mana. Dia sebagai seorang keturunan Belanda yang hidup di Indonesia, tapi dianggap sebagai orang pribumi juga bukan. Nah itu yang membuat dia sering diolok-olok. Kebetulan dia orangnya agak sedikit emosional, jadi dia tidak suka diperlakukan tidak adil. Makanya, dia jadi nakal.” papar wanita yang dipersunting oleh Roy pada tahun 1985 ini.
Tetapi menurut Ana Maria, kenakalan Roy justru berkurang sejak menikah dengannya. Hal ini disebabkan karena pada saat itu aktivitas Roy di dunia film sedang berkurang akibat kondisi perfilman tanah air yang sedang mati suri. Akibatnya Roy jadi jarang ke luar rumah untuk bergaul. Kondisi ini terjadi pada awal usia pernikahan mereka. Pada saat itu Ana Maria masih menekuni dunia modeling. Bahkan ketika Ana ingin pergi ke tempat disko, Roy malah menyuruh adiknya, Chris Salam untuk menemani istrinya tersebut. Sedangkan Roy lebih memilih tinggal di rumah dengan alasan malu pergi ke tempat disko karena sudah tua. Padahal waktu itu umur Roy baru sekitar 30-an. Selain nakal, tambah Ana, Roy juga bukan seorang yang alim atau taat kepada agama. Roy memang orang yang senang bergaul dan memiliki banyak teman.
Penyebab Terkena Narkoba
Henry Yosodiningrat yang juga bersahabat dengan Roy Marten mengatakan bahwa pemeran utama film Roda-roda Gila itu memang mengaku pernah memakai narkoba 15 tahun yang lalu, tetapi sudah lama ditinggalkannya. Ketua Granat (Gerakan Negara Anti Narkoba) itu pun dibuat kaget ketika Roy tertangkap karena kasus narkoba beberapa waktu yang lalu.
Menurut Ana Maria, kemungkinan Roy kembali menggunakan narkoba adalah karena pergaulannya. Pada saat awal pernikahan, Roy bersih dari narkoba karena dia berhenti dari dunia keartisan yang membuatnya lebih sering di rumah dan jarang bergaul. Namun belakangan, ketika dunia sinetron mulai muncul, maka lambat laun Roy pun terjun ke dunia hiburan tersebut dan mungkin ini yang menyebabkan Roy kembali bergaul dengan teman-teman mainnya.
“Mungkin dia ketemu kawan yang tidak bener, karena di dunia ini kan memang rawan sekali ya. Mungkin juga berangkat dari kenakalan Mas Roy. Tapi memang dia bilang, dia agak sedikit sombong waktu itu. Karena dia waktu itu pernah nyoba ngerokok dia bisa berhenti, minum juga bisa berhenti, apa saja dia bisa kendalikan. Semua yang buruk dia bisa berhenti secara tiba-tiba. Jadi dia berpikir, dia memakai shabu pun dia bisa berhenti kapanpun dia mau. Tapi ternyata gak semudah itu. Maka ketika ada seseorang yang menawarkan, masa seorang Roy Marten tidak berani mencoba sih, mungkin seperti itu pikiran dia. Sepertinya ada tantangan dari seseorang kepada Mas Roy untuk mencoba itu. Karena ternyata banyak sekali korban shabu adalah orang yang baik-baik, malah orang rumahan. Mungkin saya agak-agak lengahnya ya di situ, ternyata shabu banyak mengena di kalangan seperti itu. Karena orang-orang seperti orang rumahan saja bisa kena, apalagi Mas Roy yang banyak bergaul. Nah di situ saya kurang waspada.” ungkap wanita yang telah memberikan dua anak bagi Roy Marten ini.
Kondisi ini diperparah dengan jarangnya Roy pulang ke rumah akibat jadwal syuting yang padat dan acara-acara gaul-nya.. “Mas Roy memang mengaku selalu memakai barang tersebut di luar rumah, karena takut sama saya. Dan pulang ke rumah ketika efek dari obat tersebut sudah hilang. Kondisi seperti ini yang membuat saya tidak mengetahui kalau suami saya telah memakai shabu. “Ana Maria menambahkan.
Intensitas memakai shabu pria yang bernama asli Wicaksono Abdul Salam ini, menurut Ana sepertinya bisa dikontrol. “Karena kalau liburan seminggu sama saya, dia nggak pakai nggak apa-apa tuh. Dia butuh itu kalau mobilitasnya lagi tinggi, syuting kejar tayang. Kalau tidak beraktifitas, dia tidak pakai. Dia cukup bisa menguasai rasa candu kalau di depan saya, mungkin saking takutnya dengan saya.” Ana menjelaskan lagi.
Kecolongan
Menghadapi kenyataan sang suami yang dipenjara akibat mengkonsumsi narkoba, membuat diri Ana Maria syok berat. Ia merasa kecolongan. “Ya, saya merasa kecolongan karena selama ini Mas Roy kan banyak baca buku, wawasannya juga cukup luas. Dan dia juga banyak baca buku yang sebetulnya mengasah kebijaksanaan. Tapi setelah tahu prakteknya begini saya juga sempat mempertanyakan ke Mas Roy, kamu ini gimana? Kita hidup ini bukan sekedar teori tapi yang penting itu adalah praktek,” tutur Ana dengan nada meninggi.
Sebetulnya Roy dan Ana sudah sering membicarakan tentang masalah bersenang-senang dalam keluarga mereka. “Kita selalu membahas bahwa kita boleh bersenang-senang, tapi tidak boleh bersenang-senang yang melebihi batas. Kalau senang kita bisa sendiri, tapi kalau susah kan semua orang akan susah. Karena kita ini kan keluarga, keluarga ini kan satu tubuh. Mas Roy sebetulnya selama ini bisa megang itu. Tapi ya, ternyata dia bisa juga terpeleset.” ujar ibu kandung dari Merrari dan Gibran Marten ini.
Hikmah yang Bisa Dipetik
Lebih waspada dan selalu berserah kepada Tuhan. Itulah kata-kata pertama yang meluncur dari mulut Ana Maria ketika ditanya tentang hikmah yang bisa dipetik dari permasalahan yang menimpa keluarganya ini. ”Saya selalu memberikan kepercayaan penuh ke Mas Roy. Mungkin saya harus lebih berserah dan banyak berdoa kepada Tuhan, karena saya gak mungkin memonitor terus Mas Roy. Di luar sana saya tidak tahu apa yang dia lakukan. Jadi sekarang ini saya lebih banyak berdoa.” ujarnya mantap.
Saat ini yang bisa dilakukan Ana Maria hanya menagih janji Roy Marten. Menurut Ana, pria yang lahir pada tanggal 1 Maret 1952 ini berjanji akan fokus ke keluarga setelah dia keluar dari penjara. “Karena dia selama ini hidup untuk teman, lebih banyak ke teman, jadi dia bilang akan berubah sikap. Kalau habis syuting dia akan pulang ke rumah, gak akan kemana-mana lagi. Ya saya akan nagih janjinya aja, saya tidak akan menanyakan gimana-gimana karena Mas Roy tidak suka dengan wanita yang terlalu cerewet.” papar Ana.
Menurut Ana dengan adanya kejadian ini, Roy secara tidak langsung juga membuat orang-orang menjadi lebih baik. Ana mengatakan seperti itu mungkin karena Roy adalah artis terkenal dan banyak penggemarnya. Musibah yang menimpa Roy membuat para penggemar pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, bersimpati. Karena Roy sendiri pun tabah dan gentle menghadapi permasalahan ini dengan mengaku telah memakai narkoba dan siap menanggung semua resiko dan hukumannya. Roy pun dalam berbagai kesempatan di depan media infotainment selalu menasihati masyarakat untuk tidak memakai narkoba. Semua itu membuat simpati kepada Roy semakin banyak dan akhirnya berdampak pada semakin waspadanya masyarakat terhadap narkoba. “Orang akhirnya tahu bahwa memakai narkoba itu tidak baik, akibatnya seperti ini, susah. Seorang Roy saja diperlakukan seperti ini.” tutur Ana Maria.
Akibat kejadian pahit tersebut, Ana berniat akan terjun langsung ke dunia sosial guna menangani kasus narkoba setelah sang suami keluar dari penjara dan setelah keluarganya kembali mapan dan stabil. “Kita perangi narkoba dengan cara yang benar. Harus di rehab bukan di penjara. Kasihan kan pemakai dimasuki ke penjara. Dia kan sakit, dan bukan penjahat. Kalau dia masih muda dan kecanduannya masih gede, dipenjara nanti malah direkrut oleh bandar-bandar besar yang menyuplai mereka narkoba. Jadi bukannya berhenti, malah dia tambah jago di dalam. Keluar penjara dia malah jadi bandar dan bisa menjaring kelompok yang lebih banyak, itu katanya banyak terjadi di penjara. Mas Roy banyak lihat yang seperti itu.” ungkap Ana Maria polos.
Di akhir perbincangan, tidak lupa Ana Maria berpesan kepada pembaca SADAR agar menjauhi narkoba, lebih waspada dan bereaksi cepat apabila ada anggota keluarga yang terkena narkoba. (DIM)
KisahNyata - SADAR Juni 06 (Hal. 26-29)
Mending Dibilang Banci daripada Hancur karena Narkoba

“ANDA wartawan dari Majalah SADAR itu ya?”
Kata-kata itu tiba-tiba saja dilontarkan oleh seorang laki-laki berperawakan kurus, berkulit putih, dan menggunakan penutup kepala yang dihiasi dengan kacamata hitam sporty. Orang itu ternyata adalah Ricky (bukan nama sebenarnya, Red.), yang memang ditunggu-tunggu oleh SADAR sebagai sosok Rubrik Kisah Nyata SADAR edisi kali ini. Melihat Ricky, SADAR seakan tidak percaya bahwa ia dulu pernah kecanduan narkoba. Matanya bersih, mukanya terlihat begitu fresh (segar, Red.). Kami pun kemudian saling memperkenalkan diri.
Sesaat kemudian kami sudah duduk di sebuah tempat bernama Toraja CafĂ© yang terletak di Mal Ambassador. Di awal SADAR mengajukan pertanyaan, Ricky mengatakan bahwa sebenarnya ia enggan menceritakan masa lalunya yang kelam. Apalagi cerita itu untuk dipublikasikan melalui majalah. “Makanya saya gak pernah mau diekspos. Jangankan sama media terkenal, sama media gereja saja saya gak mau diwawancara.” ungkap pria kelahiran 16 September ini
Bagi Ricky, masa lalunya yang kelam biarlah menjadi jejak-jejak hidupnya, tidak perlu diekspos. Tetapi khusus untuk pembaca majalah SADAR, pria yang mempunyai tato di pergelangan tangan kirinya itu akhirnya bersedia berbagi kisah. Tujuannya, semoga bisa menjadi inspirasi bagi pembaca SADAR karena saat ini dirinya juga sedang memerangi narkoba.
Orang Tua Setiap Hari Ribut
Ricky menghabiskan masa kecilnya di tengah keluarga yang broken home. “Masa kecil saya kacau banget. Orang tua saya setiap hari pasti ribut. ribut, dan ribut. Karena itulah, keributan adalah hal biasa bagi saya,” ungkap Ricky. Selain broken home, Ricky kecil juga harus menghadapi kenyataan pahit jarang berkumpul dengan orang tua. Penyebabnya adalah karena dirinya sering dititipkan ke kerabat, dan otomatis ia selalu berpindah.
Memasuki masa SMP, Ricky mulai mencoba merokok. Kondisi mental yang sedang kacau ditambah pergaulan yang tidak baik, membuat kebiasaan merokoknya semakin menjadi. Awalnya orang tua Ricky tidak mengijinkannya merokok, tetapi akhirnya mereka menyerah. Menurut Ricky, awal dari kebiasaan memakai narkoba adalah merokok. “Soalnya waktu saya pusing, saya isep rokok. Kalau sudah gak mempan, saat itulah mulai mencoba-coba narkoba. Dan rata-rata tipikal pecandu narkoba di Indonesia seperti itu, diawali dengan kebiasaan merokok.” terang Ricky sambil menyeruput jus jeruknya.
Saat menginjak bangku SMA, Ricky pertama kali mencoba narkoba. “Kira-kira tahun 80-an. Waktu itu zamannya megadon (jenis narkoba, Red.), jadi saya pertama kali nyoba ya megadon itu. Pertama kali nyoba sih rasanya pusing, bawaannya males banget, pokoknya gak enak banget deh!” tuturnya mengenang.
Walau begitu Ricky tetap saja mengkonsumsi obat terlarang, sampai akhirnya ia pun kecanduan. Kondisi ini diperparah oleh lingkungan tempat tinggalnya. “Saya kenal narkoba pada saat saya tinggal di daerah Pasar Baru, di Gang Kelinci. Gang itu tuh emang sarangnya bandar narkoba. Apalagi daerah sekitar rumah seperti Pecenongan, Gang Kingkit, Kartini, Batu Tulis. Semuanya daerah drugs.” ungkap penggemar klub sepakbola AC Milan ini.
Jadi Preman karena Narkoba
Mengkonsumsi megadon, jelas Ricky, membuat emosinya tinggi dan tidak stabil. Akibatnya, pemuda keturunan Manado ini jadi sering ribut dengan orang lain dan selalu mengarah ke baku fisik. Mulailah Ricky menekuni karirnya sebagai preman. Bersama teman-temannya, Ricky selalu meminta uang keamanan ke toko-toko di daerah Pasar Baru. “Setiap toko saya mintain Rp 50.000 - Rp100.000. Hasilnya saya pakai mabok sama teman-teman.” papar Ricky mengingat masa lalunya.
Memasuki masa kuliah, kebiasaan Ricky mengkonsumsi narkoba makin parah. Ia pernah tidak sadarkan diri selama sehari penuh karena meminum lima butir megadon dan menghisap 15 linting ganja seukuran rokok kretek bersama temannya. Makin lama kebiasaannya ini membuat otaknya tidak dapat berpikir. Akhirnya ia keluar dari kuliahnya di salah satu universitas di kawasan Kuningan, Jakarta.
Sembuh Ditolong Teman Satu Gereja
Ricky menganggap dirinya masih disayang Tuhan. Karena di tengah keterpurukannya menjadi pecandu narkoba dan keluarga berantakan, masih ada orang yang mau menolongnya. Orang itu bernama Susi Thenu, temannya di gereja. Susi-lah yang mengajak Ricky untuk mengikuti acara gereja Teen Chalenge, acara khusus untuk pemuda yang sedang kecanduan narkoba dan ingin sembuh. “Akhirnya saya mendapat hidayah Tuhan di gereja tersebut dan saya langsung mengutarakan niat saya untuk sembuh di hadapan Tuhan. Setelah itu saya langsung mengikuti rehabilitasi. Waktu itu saya dikarantina selama tiga bulan di daerah Cibubur, di bawah pengawasan pendeta dan pembina.” tutur Ricky.
Terapi yang dijalankan Ricky tidak melibatkan dokter sama sekali, karena waktu itu dokter khusus kecanduan narkoba belum ada di tempat rehabilitasi tersebut. Ia hanya mendapatkan segelas susu ketika tubuhnya mulai sakaw atau ketagihan. Awalnya susu itu pasti dimuntahkan kembali. Tetapi pembina di sana tetap membiarkan pasien mengalami sakaw, sampai sakawnya lewat. “Seperti itu setiap kali saya sakaw. Walaupun saya pingsan, atau mengerang kesakitan yang diberi ya hanya segelas susu,” Ricky menambahkan.
Pergi ke Amerika
Setelah mengikuti karantina pada tahun 85-an, kondisi kesehatan Ricky berangsur pulih. Ia tidak lagi memakai narkoba jenis apapun. Walaupun berulang kali ia mendapat godaan dari temannya, bahkan sampai dipukuli, ia tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak memakai narkoba lagi. Waktu luangnya digunakan untuk bekerja. Sampai pada suatu saat, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta yang mempunyai piutang sebesar Rp 1,2 milyar yang macet selama dua tahun lebih. Kebetulan, ia memilili teman seorang debt collector (penagih hutang, Red.). Ia lantas meminta bantuan temannya untuk menagih. Tidak disangka, dalam kurun waktu dua hari orang tersebut langsung melunasi utangnya, padahal hanya melalui dialog, bukan pendekatan fisik. Akhirnya Ricky mendapat bonus, ia diberi kebebasan untuk berlibur ke luar negeri selama dua minggu, sebuah pengalaman yang ia anggap sebagai mujizat dari Tuhan. “Saya akhirnya milih Amerika, karena saya ingin sekali ke sana dan saya memang belum pernah ke sana,” ujar Ricky sambil tersenyum.
Akhirnya Ricky ke Amerika, dan menghabiskan waktu dua minggu bertamasya. Satu hari sebelum kepulangannya, Ricky berubah pikiran. Ia ingin menetap di Amerika. “Saya mutusin untuk tinggal lebih lama di Amerika, saya pengen sekolah di sana. Padahal waktu itu duit saya tinggal 100 dolar. Tapi karena bayar sekolahnya bisa dicicil, akhirnya saya berani. Duit saya yang tinggal 100 dolar itu, saya bikinin SIM sama KTP plus merubah visa saya dari visa kunjungan wisata ke visa pelajar, waktu itu kita tinggal nambah 45 dolar. Setelah surat itu jadi semua, saya langsung kerja jadi supir delivery service (layanan hantar, Red.) di Pizza Hut. Gajinya saya gunakan untuk bertahan hidup sama kuliah. Sejak itulah saya bisa kuliah di Amerika dan hidup selama kurang lebih 5 tahun di sana” ungkap Ricky panjang lebar.
Di negeri Paman Sam itu, Ricky mengambil kuliah ekonomi. Ia tinggal di Pasadena, Los Angeles. Selama kuliah, ia juga mengikuti ekstra kulikuler sinema. Karena itulah ketika Ricky kembali ke Indonesia, ia langsung bekerja di Broadcast Design Indonesia, satu rumah produksi terkenal di tanah air.
Membina Anak Jalanan Korban Narkoba
Saat ini Ricky disibukkan dengan aktivitas sosialnya membina anak-anak jalanan korban narkoba, bersama dengan Zack Lee (kekasih artis Nafa Urbach, Red.), dan Nyong (drummer penyanyi Glenn Fredly, Red.). Nama perkumpulannya adalah Underground Ministry. Melody Karaoke di belakang Blok M Plaza menjadi tempat nongkrong perkumpulan ini. Selain itu, Ricky juga tengah sibuk dengan Event Organizer (EO) miliknya yang bernama Sonja Media Entertain (SME). Di bawah bendera SME, Ricky menangani sejumlah artis antara lain Sonja, Saint Locco, dan grup musik Senyawa.
Bersama Underground Ministry, Ricky punya obsesi memiliki rumah sebagai tempat singgah untuk anak-anak pecandu. “Saya pengen mereka semua bisa punya skill (ketrampilan, Red.) dan pekerjaan tetap. Sehingga mereka bisa berguna dan bergabung lagi ke masyarakat. Jadi saya gak cuma nyadarin mereka untuk sembuh. Buat apa kalo setelah sembuh dia gak bisa ngapa-ngapain?” Ricky mencurahkan pandangannya.
Khusus untuk pembaca SADAR, pria yang menjagokan Belanda di Piala Dunia 2006 ini, menyampaikan pesan agar jangan sekali-kali mencoba narkoba. “Say no to drugs, jangan takut dibilang banci kalo gak pake daripada hidup lu hancur dan terpuruk karena narkoba!” tegasnya mantap, menutup obrolan sore itu. (DIM)
Sadar, April 2006
